PRAMUKANEWS.ID — Hasil Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun 2026 telah diumumkan, hal ini menjadi sebuah ketegangan dan cerita tersendiri bagi siapa saja, termasuk Kak Aisatun Nabila Putri, pramuka SMK N 1 Bumijawa, Tegal, Jawa Tengah.
Secara blak-blakan, ia mengaku bukan tipe pelajar “ambisius” bisa masuk ke perguruan tinggi ternama atau yang biasanya diidamkan kebanyakan siswa.
Dari proses seleksi SNBP 2026 ini, Ia berhasil mengamankan kursi di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Keberhasilannya ini sekaligus mematahkan anggapan bahwa masuk perguruan tinggi negeri (PTN) hanya bisa diraih oleh mereka yang terpaku pada nilai akademik semata.
Momen pengumuman kelulusan Kak Aisatun tergolong unik, karena dilakukan secara langsung melalui siaran live di platform TikTok.
Di hadapan para penontonnya, Kak Aisatun sempat berseloroh mengenai kemungkinan dirinya mendapatkan hasil merah (tidak lulus).
Akan tetapi, ketegangan memuncak saat ia menekan tombol cetak pada laman resmi seleksi. Setelah proses pemuatan data yang cukup lama, layar laptopnya menampilkan warna biru—simbol resmi kelulusan SNBP.
“Awalnya saya pikir itu bukan hasil akhir, saya pikir masih ada halaman selanjutnya. Ternyata itu benar-benar hasilnya,” ungkap Kak Aisatun.
Suasana haru seketika pecah saat ia memberi tahu sang ibu mengenai keberhasilannya masuk ke universitas impian banyak orang tersebut.
Notifikasi di media sosialnya pun seketika dibanjiri ucapan selamat dari rekan dan pengikutnya yang menyaksikan momen bersejarah itu secara daring.
Kak Aisatun mengakui bahwa perjalanan akademiknya tidak selalu mulus. Ia sempat mendapatkan teguran, karena sikapnya yang terlihat terlalu santai dalam mengurus berkas administrasi sekolah.
Di balik sikap santainya, Kak Aisatun memiliki modal kuat yang tidak dimiliki semua orang. Yaitu, rekam jejak organisasi yang cemerlang.
Selama tiga tahun, ia aktif dalam gerakan Pramuka dan konsisten meraih nilai “A” dalam kegiatan tersebut. Tidak sekadar mengenakan seragam cokelat, Kak Aisatun mencatatkan berbagai prestasi kompetitif.
Seperti Juara 2 Lomba Cerdas Tangkas Pramuka (LCTP) tingkat kabupaten hingga Juara 3 lomba Internet of Things (IoT) pada ajang Raimuna Cabang. Prestasi di bidang teknologi dan kepemimpinan inilah yang disinyalir menjadi poin krusial dalam penilaian SNBP.
Baginya, Pramuka bukan sekadar penghabis waktu, melainkan tempat ia belajar tentang kemandirian, manajemen P3K, hingga teknik bertahan hidup (survive).
“Kalau hanya mengandalkan nilai rapor, mungkin saya tidak akan sampai di titik ini. Pramuka mengajarkan saya untuk tidak egois dan belajar menghargai proses sebagai sebuah keluarga,” imbuhnya.
Kisah Kak Aisatun ini menjadi pengingat bagi para siswa lainnya bahwa pengalaman hidup dan keaktifan di luar kelas memiliki bobot yang nyata. Ia menekankan pentingnya mencari keseimbangan antara belajar dan berorganisasi.
Keberhasilannya menembus Unsoed membuktikan bahwa menjadi versi terbaik diri sendiri, dengan segala keunikan dan pengalaman organisasi yang ditekuni, mampu membuka pintu menuju masa depan yang cerah. Kak Aisatun siap melangkah menuju kampus Unsoed untuk memulai babak baru dalam hidupnya. **
