PRAMUKANEWS.ID – Satuan Karya Pramuka Pengawasan Obat dan Makanan (Saka POM) Kota Bima terus bergerak aktif dalam mencetak generasi muda yang responsif terhadap isu kesehatan dan keamanan pangan.
Sebagai langkah konkret untuk meningkatkan kapasitas anggotanya, Saka POM Kota Bima menyelenggarakan kegiatan edukatif bertajuk STOMATA (Studi Obat dan Makanan Pramuka Bertalenta).
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Jumat, 10 Juli 2026 berpusat di Pangkalan Saka POM MAN 2 Kota Bima sebagai upaya strategis untuk meningkatkan kompetensi teknis, memperluas wawasan, serta memperkuat peran nyata seluruh anggota Saka POM agar mampu bertindak sebagai agen perubahan di tengah masyarakat dalam mengawal keamanan obat dan makanan.
Untuk memastikan kualitas informasi dan akurasi materi yang disampaikan, Saka POM Kota Bima menghadirkan instruktur berkompeten yang berasal langsung dari Balai POM di Bima.
Kehadiran para ahli dari lembaga pengawas tersebut memberikan bobot ilmiah sekaligus ruang diskusi yang interaktif bagi para anggota Pramuka Penegak yang hadir.
Dalam pelaksanaan STOMATA kali ini, kurikulum pelatihan difokuskan pada dua materi esensial yang memadukan antara isu kesehatan nasional terkini dan kemampuan teknis laboratorium terapan.
Kombinasi dua materi ini dirancang agar para peserta tidak hanya memahami teori secara konseptual, tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang bisa langsung diterapkan di lingkungan sekitar.
Materi pertama yang disampaikan oleh instruktur Balai POM di Bima berfokus pada Pencegahan Stunting. Isu stunting saat ini menjadi perhatian prioritas nasional yang memerlukan keterlibatan semua lini, termasuk generasi muda.
Dalam sesi ini, instruktur memaparkan secara mendalam mengenai pentingnya pemenuhan gizi seimbang pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), serta bagaimana keamanan pangan yang dikonsumsi sehari-hari berkorelasi langsung terhadap tumbuh kembang anak.
Anggota Saka POM diajak untuk memahami bahwa pangan yang aman, bebas dari cemaran, dan bernutrisi tinggi adalah salah satu kunci utama dalam memutus mata rantai stunting di daerah.
Memasuki sesi kedua, suasana pelatihan menjadi lebih dinamis saat para peserta memasuki materi Praktek Uji Cepat Bahan Berbahaya Boraks pada Makanan. Pada sesi ini, anggota Saka POM tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi langsung melakukan pengujian secara mandiri.
Menggunakan sampel kerupuk yang kerap dijumpai di lingkungan sekolah dan pasar, instruktur membimbing peserta untuk melakukan uji cepat (rapid test kit). Mereka diajarkan melihat perubahan warna pada indikator sebagai tanda visual keberadaan boraks.
Praktik langsung ini bertujuan agar anggota Saka POM memiliki sensitivitas dan kemampuan taktis dalam mendeteksi pangan yang diduga mengandung bahan kimia berbahaya yang dilarang untuk dikonsumsi.
Melalui penyelenggaraan STOMATA, para anggota Saka POM di Pangkalan MAN 2 Kota Bima diharapkan tidak sekadar menjadi menara gading yang menyimpan pengetahuan untuk diri sendiri.
Sebagai agen perubahan, mereka memiliki tanggung jawab moral untuk menyebarluaskan ilmu yang telah didapat kepada keluarga, teman sebaya di sekolah, hingga masyarakat luas.
Dengan bekal pengetahuan tentang pencegahan stunting dan keterampilan mendeteksi boraks secara mandiri, kader-kader Pramuka Bertalenta ini kini siap menjadi perpanjangan tangan Balai POM di Bima dalam melakukan pengawasan partisipatif demi mewujudkan masyarakat Bima yang lebih sehat, cerdas, dan sadar akan keamanan pangan.
