PRAMUKANEWS.ID — Jamboree On The Air dan Jamboree On The Internet (JOTA-JOTI) sejatinya dirancang sebagai ajang perjumpaan global terbesar bagi anggota Gerakan Pramuka untuk saling terhubung, bertukar wawasan, dan memperluas jaringan lintas negara melalui teknologi radio amatir serta internet.
Namun, seiring berjalannya waktu, pelaksanaannya di sejumlah lini kerap mengalami pergeseran makna yang cukup mengkhawatirkan.
Berbagai penyimpangan mulai terjadi dan justru dinormalisasi dengan dalih “mencari pengalaman”, “memperluas jejaring”, atau sekadar mengikuti tren update. Alih-alih menjadi ruang literasi digital yang mencerahkan, esensi edukatifnya perlahan memudar.
Dari Privasi yang Dilanggar hingga Komersialisasi Kesukarelawanan
Salah satu ironi terbesar hari ini adalah celah perlindungan data. Pendaftaran yang semestinya dilandasi oleh prinsip Safe from Harm—sebagai komitmen perlindungan ketat terhadap data pribadi—kerap dicederai oleh praktik penyebaran data peserta secara terang-terangan di ruang publik.
Padahal, secara global, aturan perlindungan privasi sudah sangat jelas melarang diserahkannya data pribadi ke tangan yang salah. Ironisnya, pelanggaran etika digital ini kerap dianggap angin lalu atas nama kemudahan koordinasi.
Belum lagi persoalan komersialisasi terselubung. Fasilitas identitas kegiatan atau atribut penunjang yang dipatok dengan tarif khusus seolah mengubah semangat kesukarelawanan murni menjadi ladang bisnis yang vulgar.
Mereka yang merogoh kocek lebih dalam seringkali mendapatkan keistimewaan pelayanan, menggeser prinsip kebersamaan dan kesetaraan yang seharusnya dijunjung tinggi dalam kepanduan.
Tekanan birokratis pun turut memperkeruh suasana. Tidak jarang, para purna kegiatan atau anggota di akar rumput dipaksa untuk wajib mengikuti agenda tertentu dengan bayang-bayang ancaman atau konsekuensi administratif jika menolak. Pemaksaan semacam ini mereduksi keikhlasan berproses menjadi sekadar pemenuhan target administratif belaka.
Hilangnya Jiwa Berbagi Menuju Kompetisi yang Tidak Sehat
Akumulasi dari berbagai praktiknya yang kebablasan ini menjadikan esensi kegiatan JOTA-JOTI mengalami pergeseran drastis. Dari yang awalnya lahir dari semangat kehati-hatian, kini berjalan sesuka hati tanpa filter etika yang memadai.
Semangat gotong royong dan saling berbagi pengetahuan (sharing and learning) yang menjadi ruh kepanduan bergeser menjadi ajang kompetisi yang tidak sehat—siapa yang paling eksis, siapa yang paling cepat meraup keuntungan, dan siapa yang mendominasi panggung semu.
Saatnya Pemegang Kebijakan Mengambil Sikap
Kondisi ini tentu tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Pemegang kebijakan di struktur Gerakan Pramuka sudah sepatutnya mengambil sikap tegas dengan turun tangan langsung melakukan pemantauan, monitoring, serta evaluasi menyeluruh.
Langkah konkret harus segera diambil dengan merumuskan kembali rambu-rambu yang ketat, mulai dari penegakan aturan privasi data, transparansi tata kelola yang bersih dari komersialisasi berlebihan, hingga pemulihan kesadaran kolektif.
Sudah saatnya kita mengembalikan JOTA-JOTI ke jalur yang benar, sebagai ruang edukasi digital yang aman, bermartabat, dan berdampak nyata bagi pembentukan karakter generasi muda bangsa.
