PRAMUKANEWS.ID — Forum ataupun rapat koordinasi secara daring sering kali menjadi perbincangan hangat di kalangan anggota muda maupun muda dikarenakan sering kali hasil-hasil dari rapat atau diskusi tersebut tidak diterapkan secara efektif atau hanya sekedar menjadi angin lalu saja.
Padahal, apa yang membedakan pertemuan daring dengan pertemuan biasa?
Di era modern seperti sekarang ini, tidak sulit untuk sekedar berbincang dengan lawan bicara kita sekalipun mereka berada di luar pulau menggunakan teknologi yang tersedia, seperti telepon (salah satunya melalui whatsapp call).
Namun pada kenyataannya, banyak dijumpai di sekitar kita masih banyak yang menilai suatu pertemuan secara daring akan berjalan tidak efektif.
Tentunya pernyataan tersebut sangatlah kontradiktif dengan kemajuan teknologi yang terjadi pada masa ini. Di saat teknologi berkembang pesat, aplikasi penunjang komunikasi kian bertumbuh, internet semakin meluas ke berbagai penjuru dunia, mengapa masih ada yang berpendapat bahwa pertemuan secara daring dinilai tidak efektif?
Mari kita coba refleksikan Bersama.
Suatu pertemuan (kita ambil contoh, rapat koordinasi), tentunya sudah ada urutan atau poin pembahasan yang akan dikoordinasikan dalam suatu rapat.
Jika hal tersebut juga diterapkan dalam pertemuan daring, maka pertemuan daring akan berjalan sebagaimana pertemuan tatap muka.
Maka tidak masuk akal jika terdapat ketidak-efektifan dalam suatu pertemuan daring tetapi perihal yang dikeluhkan adalah “pembahasan tidak berjalan secara efektif”. Tentunya ketika poin pembahasannya jelas, maka arah pembahasan juga akan terstruktur.
Keluhan lain yang cukup “popular” adalah interaksi antar peserta dalam suatu pertemuan. “nanti ga bakal ada yang dengerin kalau kita pertemuannya daring” adalah ungkapan yang sangat sering muncul ketika pertemuan daring direncanakan.
Perlu kita sadari Bersama, etika dalam berbicara (terutama dalam suatu forum) adalah salah satu yang berbicara, yang lain mendengarkan, jika ada yang mau berbicara maka biarkan pembicara sebelumnya menyelesaikan pembicaraannya (tidak boleh menyela). Jika etika ini juga diterapkan ke dalam pertemuan daring, tentunya pertemuan daring akan berjalan secara efektif.
Lebih parahnya lagi, dalam suatu pertemuan daring, justru para peserta daring memanfaatkan “jarak” yang ada untuk secara diam-diam melakukan kegiatan lain yang justru mengganggu fokusnya sendiri dalam mengikuti pertemuan tersebut.
Sadarkah kita bahwa perilaku tersebut sebenarnya merupakan salah satu bukti kemunduran yang terjadi dalam organisasi kita? Bagaimana tidak?
Di era yang penuh dengan kemajuan teknologi informasi seperti sekarang, masih ada yang tidak mampu memanfaatkan teknologi tersebut.
Selain tidak tersedianya internet dan perangkat yang memadai, maka ketidak-efektifan pertemuan secara daring tersebut tercipta dari individu (atau bahkan kelompok) yang memanfaatkan teknologi tersebut.
Ketika faktor-faktor penghambat efektivitas pelaksanaan pertemuan daring justru muncul dari individu-kelompok yang menggunakannya, maka siapakah yang seharusnya diperbaiki? Teknologinya atau manusia sebagai penggunanya?
Maka sebagai individu modern, terlebih lagi jika kita seorang pemuda yang dikenal melek teknologi, seharusnya kita mampu memanfaatkan teknologi informasi yang ada dengan bijak.
Di era yang serba cepat dan makin terbatasnya ruang gerak baik secara waktu maupun tempat, seharusnya kita mampu memanfaatkan kemudahan-kemudahan yang disediakan.
Apabila teknologi sudah memudahkan kita tetapi kita yang justru menormalisasikan kemalasan kita dalam memanfaatkan teknologi, itu berarti kita memilih untuk menjadi manusia yang mundur dan terbelakang.
