PRAMUKANEWS.ID – Tantangan dalam menyelamatkan generasi muda dari ancaman penyalahgunaan Obat-Obat Tertentu (OOT) memerlukan partisipasi aktif dari seluruh elemen, termasuk dari kalangan remaja itu sendiri.
Menyadari peran strategis tersebut, jajaran Satuan Karya Pramuka Pengawas Obat dan Makanan (Saka POM) di wilayah Bima turut ambil bagian dalam gerakan masif yang digagas oleh otoritas pengawas obat dan makanan.
Sebanyak satu orang anggota Saka POM Bima yang berasal dari SMAN 1 Woha bersama dua orang anggota Saka POM Kota Bima dari MAN 2 Kota Bima secara resmi mengikuti kegiatan Aksi Nasional Pencegahan Penyalahgunaan Obat-Obat Tertentu.
Kegiatan yang berlangsung khidmat dan penuh semangat kepemudaan ini diselenggarakan oleh Balai Pengawas Obat dan Makanan (Balai POM) di Bima pada hari Senin, 25 Mei 2026.
Kehadiran para pramuka penegak ini menegaskan bahwa kaum muda siap menjadi benteng pertahanan utama dalam melawan peredaran obat-obat terlarang di lingkungan pendidikan.
Penyalahgunaan obat-obatan seperti tramadol, triheksifenidil, ketamin, dan dekstrometorfan kini menjadi ancaman tersembunyi yang mengintai usia produktif.
Menanggapi situasi kritis tersebut, para anggota Saka POM yang hadir menyatakan dukungan penuh terhadap gerakan pencegahan penyalahgunaan OOT ini.
Mereka menganggap bahwa pemahaman mengenai risiko obat-obatan mutlak diperlukan oleh setiap pelajar agar tidak terjebak dalam lingkaran setan ketergantungan yang dapat merusak masa depan bangsa.
Dukungan tersebut tidak hanya berhenti sebagai partisipasi pasif dalam forum ilmiah. Sebagai bentuk tanggung jawab moral setelah mengikuti Aksi Nasional ini, para anggota Saka POM berkomitmen untuk segera melakukan aksi nyata di lapangan.
Mereka berencana menindaklanjuti kegiatan ini dengan melaksanakan program edukasi mandiri bertajuk ”Bahaya dan Ancaman Tersembunyi Penyalahgunaan Obat-Obat Tertentu” yang ditujukan khusus kepada teman sebaya serta seluruh siswa-siswi di sekolah masing-masing.
Langkah tindak lanjut berupa edukasi kepada teman sebaya (peer education) dinilai sebagai metode preventif yang sangat efektif. Remaja cenderung lebih terbuka dan mudah menerima informasi yang disampaikan oleh rekan seusianya dibandingkan melalui pendekatan formal orang dewasa.
Melalui basis pangkalan mereka di SMAN 1 Woha dan MAN 2 Kota Bima, para kader Saka POM ini akan bertransformasi menjadi penyambung lidah Balai POM di Bima untuk menyebarkan pesan-pesan sadar obat secara interaktif dan persuasif.
Dalam implementasinya nanti, materi yang akan dibagikan mencakup pengenalan jenis-jenis OOT yang sering disalahgunakan, dampak fatal konsumsi obat tanpa resep dokter terhadap kesehatan fisik dan mental, hingga cara menolak ajakan atau tekanan dari lingkungan pergaulan yang negatif.
Keikutsertaan perwakilan SMAN 1 Woha dan MAN 2 Kota Bima ini juga menjadi bukti nyata berjalannya fungsi Krida Informasi dalam struktur kepengurusan Saka POM.
Sekolah-sekolah tersebut diharapkan mampu menjadi proyek percontohan pangkalan pramuka yang mandiri dalam menangkal ancaman kejahatan obat dan makanan di wilayah Kabupaten maupun Kota Bima.
Melalui komitmen dan aksi nyata yang ditunjukkan oleh para anggota Saka POM Bima dan Kota Bima ini, Balai POM di Bima optimis bahwa permintaan (demand) terhadap OOT ilegal di kalangan pelajar dapat ditekan secara signifikan.
Kolaborasi yang erat antara instansi pemerintah, institusi pendidikan, dan organisasi kepanduan ini menjadi modal sosial yang sangat berharga dalam menjaga kualitas sumber daya manusia, sekaligus memastikan terwujudnya pemuda Bima yang sehat, cerdas, dan bebas dari penyalahgunaan obat demi menyongsong Indonesia Emas Tahun 2045.
