PRAMUKANEWS.ID — Gerakan Pramuka Kwartir Ranting (Kwarran) Kecamatan Lumbir, Kwartir Cabang (Kwarcab) Banyumas, menyelenggarakan forum ilmiah dan diskusi strategis bertajuk Sarasehan Pembina Pramuka Tahun 2026.
Berlangsung penuh hikmat di Aula Gedung Kecamatan Lumbir Lantai 2 pada Kamis, 13 Agustus 2026, agenda ini menjadi wahana evaluasi mendalam bagi para pendidik kepanduan di tingkat akar rumput.
Mengangkat tema “Refleksi 65 Tahun Gerakan Pramuka Mentransformasi Karakter Tunas Muda di Era Digital”, sarasehan ini menegaskan kembali fungsi utama kepramukaan sebagai pilar pembentukan karakter bangsa di tengah derasnya arus modernisasi teknologi.
Kegiatan tahunan yang dihadiri oleh puluhan Kamabigus, pembina Pramuka dari tingkatan Siaga, Penggalang, hingga Penegak se-Kecamatan Lumbir tersebut menghadirkan tokoh pendidikan kepramukaan daerah, Kak Arifin Nur Hayadi, S.Pd., M.Pd., sebagai pembicara utama.
Kehadiran para pemangku kepentingan tingkat kecamatan, jajaran Majelis Pembimbing Ranting (Mabiran), serta pengurus Kwarran menegaskan betapa krusialnya sinergi kelembagaan dalam mengawal arah pendidikan karakter peserta didik.
Langkah awal dari rangkaian peringatan Hari Pramuka ke-65 di Kecamatan Lumbir tersebut tidak sekadar diisi dengan seremoni rutin.
Lebih dari itu, forum sarasehan difokuskan untuk menggugah kesadaran kolektif para pembina mengenai esensi pengabdian mereka.
Di tengah era yang menuntut kecepatan dan serba digital, eksistensi Pembina Pramuka dituntut tidak hanya hadir secara fisik atau sebatas pemenuhan kewajiban administratif di Gugus Depan.
Melalui diskusi interaktif, para pembina diajak untuk membedah tantangan nyata yang dihadapi generasi muda, mulai dari adiksi media sosial, penurunan interaksi sosial tatap muka, hingga krisis ketahanan moral.
Pembina Pramuka diposisikan sebagai agen perubahan (agent of change) yang harus mampu menerjemahkan Nilai-Nilai Satya dan Darma Pramuka ke dalam bahasa metodologis yang relevan dengan psikologi remaja abad ke-21.
Dalam pemaparannya, pihak penyelenggara menekankan bahwa usia 65 tahun Gerakan Pramuka merupakan momentum matang untuk melakukan transformasi metode pembinaan.
Penyelenggara menyampaikan bahwa pemanfaatan teknologi informasi tidak boleh dipandang sebagai ancaman bagi kepramukaan, melainkan harus dikelola sebagai instrumen pendidikan yang efektif.
Menurut panitia, tantangan terbesar pembina saat ini adalah bagaimana mengemas kegiatan kepramukaan agar tetap menarik, menantang, dan bermakna bagi tunas muda tanpa menghilangkan marwah serta nilai dasar kepramukaan.
Lebih jauh, narasumber utama, Kak Arifin Nur Hayadi, S.Pd., M.Pd., menguraikan bahwa adaptasi digital dalam Gerakan Pramuka harus berorientasi pada penguatan karakter.
Ia menyatakan bahwa Pembina Pramuka dituntut memiliki literasi digital yang mumpuni agar mampu mendampingi peserta didik dalam memilah serta memanfaatkan informasi secara bijak.
Menurutnya, karakter disiplin, tenggang rasa, cinta alam, dan kebangsaan harus tetap menjadi fondasi utama, sementara teknologi berperan sebagai sarana pendukung untuk melipatgandakan jangkauan kebaikan.
Selain itu, dalam sesi diskusi tak langsung tercetus pula komitmen bersama antar-gugus depan se-Kecamatan Lumbir untuk mengintegrasikan media digital dalam pelaporan kegiatan serta pembuatan konten-konten edukatif yang menginspirasi publik.
Jajaran pengurus Kwarran Lumbir mengungkapkan harapan agar sarasehan ini menghasilkan resolusi konkret yang dapat diterapkan langsung di masing-masing pangkalan sekolah.
Ketua Kwartir Ranting (Ka Kwarran) Lumbir, Kak Ary Kurniawan, S.Pd. SD., dalam sambutan pembukaannya menyampaikan pesan mendalam yang menyasar langsung ke jantung profesi seorang pembina.
Ia mengajak seluruh peserta untuk melakukan introspeksi diri secara jujur terkait peran yang selama ini dijalankan di Gugus Depan.
“Kegiatan sarasehan ini bertujuan untuk merefleksi diri kita masing-masing, apakah kita sudah benar-benar menjadi pembina Pramuka seutuhnya atau hanya sekedar memenuhi administrasi saja,” tegas Kak Ary Kurniawa.
Ia menambahkan bahwa seorang pembina seutuhnya adalah mereka yang mengikatkan hatinya pada perkembangan jiwa peserta didik, membimbing dengan keteladanan, serta konsisten menanamkan nilai Dasadarma dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar menggugurkan kewajiban pelaporan berkas atau mengejar pemenuhan jam mengajar.
Dukungan penuh terhadap langkah strategis Kwarran Lumbir juga datang langsung dari jajaran pemerintah kecamatan. Ketua Majelis Pembimbing Ranting (Ka Mabiran) Lumbir yang baru, Kak Mikesti, S.KM., M.Biomed., memberikan apresiasi tinggi dalam sambutannya.
Kehadirannya dalam forum ini menjadi salah satu agenda penting pasca-prosesi serah terima jabatan pimpinan kecamatan di Lumbir.
“Saya akan terus mendukung apapun kegiatan yang dilaksanakan di Kwarran Lumbir, karena saya yakin semua kegiatan yang telah dikonsep dalam kepengurusan Kwarran adalah kegiatan yang baik dan mampu menumbuhkan karakter kepada peserta didik,” ujar Kak Mikesti dengan penuh optimisme.
Kak Mikesti menegaskan bahwa sinergi antara jajaran pemerintah kecamatan selaku Mabiran dan jajaran pengurus Kwarran merupakan kunci utama lahirnya program-program pembinaan kepemudaan yang berdampak luas bagi masyarakat Lumbir.
Menguraikan materi yang disampaikan oleh Kak Arifin Nur Hayadi, S.Pd., M.Pd., sarasehan ini menggarisbawahi tiga pilar utama transformasi karakter di era digital.
Yaitu Reorientasi Metodologi Pembinaan: Teknik kepramukaan (scouting skills) tradisional seperti tali-temali, navigasi darat, dan purna sekat tetap dipertahankan, namun dipadukan dengan pemanfaatan aplikasi digital, pemetaan berbasis GPS, serta kampanye kepedulian lingkungan melalui platform digital.
Kemudian Keteladanan Digital (Digital Role Model): Pembina Pramuka dituntut menjadi contoh terbaik dalam bertutur kata dan berinteraksi di ruang siber. Sikap sopan santun, anti-hoaks, serta pemanfaatan internet sehat harus dicontohkan terlebih dahulu oleh para Pembina.
Selanjutnya Penguatan Ketahanan Mental dan Moral: Di tengah gempuran arus informasi yang tak terfilter, Gerakan Pramuka hadir sebagai benteng moral yang melatih kecerdasan emosional, kerja sama tim, dan kepedulian sosial secara tatap muka nyata.
Melalui forum ini, seluruh peserta sepakat bahwa digitalisasi bukan untuk menggantikan interaksi fisik di alam terbuka—yang menjadi ciri khas utama Gerakan Pramuka—melainkan memperkaya pengalaman belajar para anggota muda.
Penyelenggaraan sarasehan di Aula Gedung Kecamatan Lumbir Lantai 2 ini diakhiri dengan perumusan draf komitmen bersama Pembina Pramuka Kwarran Lumbir Tahun 2026.
Draf tersebut mencakup penataan ulang pola pembinaan di pangkalan, peningkatan kapasitas pembina melalui pelatihan berkelanjutan, serta pembuatan program kerja inklusif yang melibatkan peran aktif orang tua dan masyarakat.
Dengan semangat refleksi 65 tahun Gerakan Pramuka, Kwartir Ranting Lumbir membuktikan komitmennya untuk tidak sekadar berjalan di tempat.
Lewat kepemimpinan yang progresif, dukungan kelembagaan yang kuat dari Mabiran, serta kesadaran kritis dari para pembina, Kwarran Lumbir siap mencetak generasi tunas muda yang tidak hanya tangguh dan berkarakter Pancasila, tetapi juga berdaya saing tinggi di era digital.
