PRAMUKANEWS.ID — Ada satu teori gila yang entah siapa pertama kali melontarkannya, tapi kami sekelompok mantan aktivis Pramuka mengamini. Kami yakin, kalau badan kami dibedah, isinya bukan lambung atau jantung, melainkan logo tunas kelapa.
Ada juga yang lebih parah, bilang kalau sejak di dalam kandungan, kami sudah latihan simpul mati pakai usus ibu. Keterlaluan memang, tapi ya begitulah kami saat masih berada di puncak kejayaan sebagai Pramuka Penegak Laksana.
Bahkan, salah satu dari kami, yang menyandang predikat Pramuka Garuda (mencapai kecakapan dan penghargaan tertinggi di tingkatannya) pun tak luput dari nasib tragis ini.
Hidup kami cuma satu yakni Pramuka. Hari Jumat yang seharusnya jadi waktu pulang lebih awal, malah kami habiskan untuk latihan.
Senin pagi, kami sudah siap dengan hukuman bagi yang bolos. Hari Selasa, kami sudah sibuk rapat untuk persiapan Jumat depan. Pokoknya, tak ada hari tanpa Pramuka.
Kebanggaan kami adalah memiliki seabrek tiska (tanda ikut serta kegiatan) di dada, bahkan saking penuhnya sampai meluber ke kanan. Baju seragam Pramuka tak akan lengkap jika tak dipenuhi badge dari berbagai kegiatan. Kalau ada acara di luar sekolah, kami akan berebut sampai urat leher tegang. Absen sekali, rasanya kayak habis putus cinta.
Akan tetapi, semua kegilaan itu harus menemui ajalnya. Takdir memang kejam. Setelah bertahun-tahun hidup di bawah naungan Trisatya dan Dasadarma, momen kelulusan tiba. Momen yang seharusnya jadi pintu gerbang menuju hidup yang lebih dewasa, tapi bagi kami, itu adalah gerbang menuju “pensiun”secara massal.
Tiba-tiba saja, mayoritas dari kami yang dulunya rela mengorbankan waktu demi perkemahan, malah memilih rebahan atau sibuk mencari cuan. Sumpah, kami tidak pernah berencana jadi orang pasif.
Tapi, kuliah di jurusan yang punya segudang tugas, kesibukan di organisasi lain, atau tuntutan pekerjaan, membuat jadwal kami tak lagi ramah pada kegiatan kepramukaan. Seragam Pramuka yang dulu rapi, kini hanya teronggok di lemari. Miris.
Mungkin hanya satu atau dua orang dari kami yang masih tetap aktif. Sisanya? Ya, kami masuk kasta baru yang oleh teman kami disebut Pramuka Pensiun.
Apa itu Pramuka Pensiun?
Kami adalah mereka yang tidak lagi menjabat, tidak punya kartu anggota, bahkan mungkin sudah lupa cara membuat simpul pangkal. Kami adalah yang hanya bisa memandang adik-adik Pramuka yang masih aktif dengan tatapan penuh kenangan, lalu berbisik, “Kok beda ya tekniknya dengan zaman kita dulu?” Padahal, yang beda itu bukan tekniknya, tapi memang kami yang sudah ketinggalan zaman.
Kami adalah mereka yang masih datang ke acara Pramuka SMA, kadang sampai membujuk teman-teman lain untuk ikut. Kami adalah kasta yang kebanggaannya cuma satu: flashback cerita masa lalu yang heroik. Mulai dari kisah masuk pramuka, perjuangan saat calon laksana, hingga menembus badai saat pengembaraan.
Buktinya, saat Hari Pramuka tanggal 14 Agustus lalu, lini masa media sosial kami tetap ramai. Entah itu dengan mengunggah foto-foto lawas saat masih aktif, atau sekadar membuat status berisi ucapan selamat. Sebuah pengakuan tak langsung bahwa meski sudah pensiun, kami tetap merasa bagian dari keluarga besar ini.
Tapi, di balik semua kegagahan masa lalu yang sudah pudar itu, ada satu hal yang menarik. Kami memang sudah tidak aktif di organisasi, tidak lagi hafal teknik kepramukaan, dan sudah tidak punya jabatan. Tapi, kami sadar, nilai-nilai Dasadarma dan Trisatya itu masih tertanam di dalam diri.
Kami tetap Takwa kepada Tuhan, walau kadang salatnya mepet-mepet karena ketiduran. Kami tetap Rela menolong dan Tabah, walaupun harus menggerutu dulu saat disuruh bantu teman yang butuh. Kami tetap Suci dalam Pikiran, Perkataan, dan Perbuatan, kecuali kalau sudah urusan kebijakan negara yang bikin darah mendidih.
Kami memang tidak lagi terdaftar di gugus depan, tapi DNA tunas kelapa ini, meski sedikit pudar, tetap ada di setiap tingkah laku kami. Itulah Pramuka Pensiun. Siap sedia menghadapi kehidupan, walau tanpa seragam dan setumpuk tali-temali.
