PRAMUKANEWS.ID — Peran Pramuka dalam menjaga lingkungan kembali mendapat sorotan melalui aksi nyata yang konsisten dilakukan oleh para anggotanya. Di tengah persoalan sampah yang masih menjadi polemik di Bali, Pramuka hadir sebagai garda terdepan dalam mengedukasi sekaligus bertindak langsung di lapangan.
Aksi nyata yang dilakukan mulai dari kegiatan bersih-bersih hingga pemilahan sampah, Pramuka menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa dimulai sejak usia muda.
Kak Nanda, Pramuka Singaraja dari Dewan Ambalan Ken Arok dalam obrolan Spada di RRI Singaraja menyampaikan bahwa sampah merupakan ancaman nyata bagi lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Menurutnya, sampah tidak hanya merusak keindahan, tetapi juga dapat memicu bencana seperti banjir dan pencemaran alam.
“Kalau kita lihat di sekitar, sampah itu benar-benar merusak lingkungan. Dari situlah kami sadar bahwa sampah ini bukan hal sepele dan harus ditangani bersama,” ujarnya.
Dalam kegiatan Pramuka, kepedulian terhadap lingkungan telah menjadi bagian dari program kerja yang rutin dilaksanakan. Melalui bidang pengabdian masyarakat (abdimas), Pramuka menjalankan bakti sosial yang salah satunya difokuskan pada kegiatan bersih-bersih di ruang publik seperti pantai dan fasilitas olahraga.
Lokasi kegiatan peduli lingkungan inipun tidak dipilih secara sembarangan, melainkan melalui survei agar aksi yang dilakukan tepat sasaran.
Kegiatan ini biasanya dilaksanakan pada hari ekstrakurikuler, sehingga tidak mengganggu aktivitas akademik. Seluruh anggota dilibatkan agar tumbuh rasa tanggung jawab bersama terhadap lingkungan sekitar.
Dari tahun ke tahun, kegiatan tersebut terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjadi budaya dalam organisasi Pramuka.
Sementara itu Kak Merliana dari Dewan Ambalan Ken Dedes menambahkan bahwa sampah plastik menjadi temuan paling dominan dalam setiap kegiatan bersih-bersih. Hal ini menunjukkan masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah, khususnya di tempat umum.
“Sampah plastik itu paling banyak kami temukan, dan ini membuktikan kalau kesadaran masyarakat masih perlu ditingkatkan,” katanya.
Menariknya, sampah yang dikumpulkan tidak langsung dibuang begitu saja. Pramuka memilah sampah untuk kemudian dimanfaatkan kembali.
Botol plastik dan kardus dijual dan hasilnya dimasukkan ke kas kegiatan, sementara sebagian sampah lainnya dijadikan karya kreatif seperti mozaik wajah dari sampah plastik.
Bagi Pramuka, memungut sampah bukan sekadar program, melainkan bentuk pendidikan karakter. Setiap anggota dibiasakan untuk tidak membiarkan sampah berada di depan mata. Kebiasaan ini secara perlahan membentuk sikap peduli dan empati terhadap lingkungan, baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Melalui semangat “Pramuka Lawan Sampah Cegah Bencana”, para anggota berharap aksi kecil yang mereka lakukan dapat menginspirasi masyarakat luas untuk lebih bertanggung jawab terhadap sampah dan lingkungan. *
